Sunday, November 01, 2009

College Life...?

Hoaaahhmmm, akhirnya ada waktu lagi buat nulis sesuatu disini.
Well, I'm very very busy lately. Berangkat pagi, pulang malem. Ke kosan seakan cuma numpang tidur dan ngerjain tugas tentunya. Selebihnya, kuliah di kampus, ngerjain tugas-tugas yang sangat amat banyak dan belajar kelompok di kosan temen.
But actually, I do really enjoy it. Having a lot of new friends who have different characters and sometimes show us an unpredictable and unique attitude (esp. for my friends who are from outlying districts). It's interesting and sometimes funny to see them talking with languages that I don't understand at all, haha. (apalagi yang dari Sumatera, unik-unik banget deh.. :D). And of course I also learn many things from them.

Hmm.. actually I think I've already enjoyed with my new environment, but there's still something that makes me in a quandary. That's about my study program.
There are so many questions that waiting to be answered. Why I chose chemical engineering? Is it the correct one for me?
Yaa lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya, saya merasa salah masuk jurusan. :(
Why? Salah satu alasan terbesarnya adalah KIMIA.
I feel really stupid in chemistry class. Semua temen-temenku jago kimia. Banyak banget yang ikut OSN Kimia, dan dapet medali emas, perak, dan perunggu. Sementara aku...well, you know that I'm not that interesting to chemistry actually and please jangan mengungkit tentang aku yang dapet nilai UAN Kimia 100. Nilai UAN 100 bukan berarti aku jago kimia. -____-"

So, why did I choose chemical engineering?

To be honest, alasan sesungguhnya adalah:
1. Tuntutan keluarga
2. Hasil psikotest
3. Banyak fisikanya

Setelah dipikir-pikir, sepertinya alasan di atas tidak cukup baik untuk menentukan suatu pilihan jurusan. Alasan 1 dan 2 dari luar diriku sendiri. Hanya alasan 3 yang dari dalam diriku sendiri.
Honestly, I ever thought about studying in Pure Physics/MIPA FISIKA. I told this to my parents. My mom disagreed with it while my dad supported me. My dad always support me in any condition and any situation that make me feel happy and comfort. But unfortunately, my dad is too stick with my mom. So, if my mom disagree, he'll disagree too. :(

I've done my midterm test in Chemical Engineering UI, and my conclusion: I'm not really interesting with the subjects in this major.. :(
As I told you before, there's no Physics subject in this semester. Tapi, Fisika sudah 'nyelip' di mata kuliah Pengantar Teknik Kimia tentang FLUID MECHANICS. Di matkul itu juga, sang dosen mengatakan satu kalimat yang membuatku........ -____-"

"Jantung Teknik Kimia adalah TERMODINAMIKA"

Memang sih, semester 2 dan seterusnya akan lebih banyak Fisika-nya. Tapi tetep aja, aku harus melewati banyak matkul KIMIA yang susah-susah (Kimia Analitik, Kimia Organik, Kimia Fisika). Dan sebenarnya, Termodinamika dan Mekanika Fluida adalah materi Fisika yang tidak begitu aku sukai. Dulu, saat SMA, aku sulit memahaminya bahkan sampai memanggil guru ke rumah untuk memahami materi tersebut. Hhh..

Tapi apapun yang sudah terjadi, janganlah disesali. Yang sudah diberikan oleh Allah, itulah yang terbaik untuk kita. So, I'll try to do my best here, in Chemical Engineeering.

When you make mistakes, don't look back at it too long because the past can't be changed...

"Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah...
"

:)

Thursday, September 17, 2009

Realizing The Role of MAHASISWA, The Agent of Change...

DEKANAT vs MAHASISWA (?)

Beberapa hari terakhir ini, di kampus tercintaku, FTUI, sedang hangat-hangatnya pembahasan mengenai PPAM (Proses Pembekalan Anggota Muda) yang amat kontroversial. PPAM adalah tradisi dari tahun ke tahun di FTUI, yang sebenarnya 'penghalusan' dari yang namanya ospek. Seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, ospek di teknik memang selalu berat, dimanapun itu. Begitu juga dengan PPAM di FTUI. Namun, PPAM adalah syarat seorang mahasiswa untuk menjadi IKM Aktif yang bisa masuk ke organisasi.

Pada awalnya, aku berniat untuk ikut PPAM karena aku memang ingin menjadi IKM aktif. Tapi niatku pun langsung berubah saat munculnya surat resmi dari dekanat FTUI yang melarang kegiatan PPAM. Inti dari surat edaran tersebut adalah dekanat FTUI melarang mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan PPAM karena kegiatan tersebut adalah kegiatan tidak berizin. Begitu membaca surat edaran tersebut, aku langsung memutuskan untuk tidak ikut PPAM. Mahalum (Manajer Kemahasiswaan dan Alumni) FTUI pun juga menambahkan bahwa akan ada sanksi akademis maupun nonakademis jika ada mahasiswa yang mengikuti kegiatan PPAM tersebut. Wew, aku pun langsung benar-benar menolak untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tapi, bagaimana dengan IKM Aktif?

Kami, satu angkatan DTK (Departemen Teknik Kimia) pun membahas masalah ini. Di satu sisi, kami tidak mau main-main dengan keputusan dekanat yang melarang kegiatan PPAM, bahkan ada sanksi akademis dan nonakademis. Namun di sisi lain, kami merasa tidak enak dengan senior yang katanya sudah merencanakan acara ini jauh sebelum kami memilih jurusan masing-masing. Bayangkan saja, bagaimana perasaan kita jika kita sudah merencanakan suatu acara namun tiba-tiba batal begitu saja? Selain itu, kami ingin menjadi IKM Aktif karena PPAM adalah satu-satunya syarat untuk menjadi IKM Aktif.

Kami dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit. Pilihan pertama, patuh pada dekanat dengan tidak ikut PPAM tapi tidak menjadi IKM Aktif. Pilihan kedua, ikut PPAM, menjadi IKM Aktif, tapi mendapat sanksi akademis dan nonakademis. Mana yang lebih baik?
Jika dikembalikan ke niat awal kami, tentu saja kami memilih pilihan pertama. Tujuan utama kami di Universitas Indonesia adalah untuk kuliah, menuntut ilmu. Dan semua itu yang bertanggung jawab adalah pihak dekanat, bukan senior. Apakah senior bisa menjamin kuliah kami di UI? Saya rasa tidak, yang bisa menjamin atau memegang kendali hanyalah pihak dekanat.
Namun, jika kami memikirkan masalah status sosial ataupun soft skills kami di organisasi, kami menjadi bimbang. IKM Aktif adalah syarat mutlak untuk dapat berorganisasi di FTUI. Kami sebagai seorang mahasiswa tentu saja tidak hanya ingin 'kupu-kupu' alias 'kuliah-pulang, kuliah-pulang'. Kami ingin berorganisasi dan berkontribusi untuk masyarakat.

Angkatan kami, satu Departemen Teknik Kimia 2009 sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak mengikuti PPAM. Dari 7 departemen di FTUI, 6 departemen sudah setuju, hanya DTK yang tidak setuju. Kami berpikir esensi dari kegiatan PPAM itu sendiri kurang jelas. Jika alasannya adalah untuk mengenal satu sama lain, pasti ada cara lain selain PPAM. Jika alasannya adalah untuk membiasakan mahasiswa baru dengan tugas-tugas menumpuk dan kehidupan yang keras di teknik, pasti juga ada cara lain yang lebih baik. Pihak dekanat yang jelas-jelas melarang kegiatan PPAM juga menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak berguna. Kalau ada gunanya, sudah pasti dekanat akan mengizinkan kegiatan tersebut. Track record PPAM yang buruk dari tahun ke tahun membuat pihak dekanat tidak percaya lagi kepada para panitia. Tiap tahun, para panitia selalu berusaha meyakinkan dekanat bahwa kegiatan PPAM tidak seburuk tahun sebelumnya, tapi apa yang terjadi? Selalu ada 'korban' tiap tahunnya. Tahun lalu, 18 mahasiswa masuk ICU setelah PPAM.

Kami, Departemen Teknik Kimia memang dikenal paling kritis dibanding departemen lain. Saat ini kami menuntut perubahan, perubahan ke arah yang lebih baik. Bukankah salah satu peran mahasiswa adalah agent of change? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Sunday, September 13, 2009

Di Penghujung Ramadhan..

Aku baru saja pulang dari acara KIAS MOZAIC FTUI, semacam acara pesantren kilat khusus untuk maba FTUI 2009 yang diadakan di Villa Karya Nyata, Caringin, Sukabumi, 11-13 September 2009. Awalnya aku enggan untuk ikut karena tugas-tugas kuliah yang menumpuk, teman-teman sejurusanku pun yang ikut hanya sekitar 30%. Namun akhirnya aku memutuskan untuk ikut juga karena KIAS adalah penilaian mabim (masa bimbingan) FTUI yang menentukan lulus tidaknya maba FTUI 2009 sebagai IKM AKTIF (fyi, hanya IKM AKTIF yang berhak ikut organisasi) dan aku juga ingin refreshing.

Awalnya niatku hanya itu, karena penilaian mabim dan sekadar refreshing. Tapi alhamdulillah, aku mendapat lebih dari itu. KIAS betul-betul tidak mengecewakan sama sekali. Namun yang ingin aku sampaikan di sini bukanlah masalah acara KIAS, tapi apa yang aku dapatkan dari acara KIAS tersebut.

Di acara KIAS, aku benar-benar disadarkan akan beberapa hal. Yang pertama, sifatku (atau bahkan kami) yang masih seperti siswa, bukan MAHASISWA. Yang kedua, aku sudah membuang-buang diskon Allah di bulan Ramadhan yang hampir usai ini. Yang ketiga, muhasabah yang 'berbeda'.

Dari ketiga hal di atas, yang ingin aku jelaskan di sini adalah yang kedua dan ketiga.
Ramadhan tahun ini memang terasa jauh lebih berat daripada tahun lalu. Tahun lalu, aku bisa mencapai targetku untuk khatam Alquran 1x. Tapi sekarang, untuk target yang sama seperti tahun lalu pun, aku sangat amat pesimis. Waktuku yang tahun lalu dipakai untuk mengaji dan ibadah lainnya, kini terpakai untuk mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Tugas-tugas tersebut bukan hanya tugas dari dosen, tapi juga tugas dari senior. Terkadang, tugas senior cukup menyulitkan dan terkesan 'agak' impossible untuk diwujudkan. Karena itulah, hampir tiap hari aku hanya tidur 2 jam.
Memang seharusnya aku bisa memanajemen waktu dengan baik, dan membagi antara kuliah-ospek dengan ibadah, apalagi di bulan Ramadhan seperti ini. Namun sayangnya, aku belum pandai memanajemen waktuku.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya di hari-hari terakhir Ramadhan ini.

Seperti layaknya acara pesantren kilat lainnya, di KIAS juga ada yang namanya muhasabah. Aku sudah amat sering mengikuti muhasabah, bahkan aku sudah 'hafal' apa yang akan diucapkan atau disampaikan oleh fasilitatornya. Namun, ada yang berbeda saat muhasabah KIAS kemarin. Entah mengapa, air mataku mengalir deras saat sang fasilitator mengungkit tentang sosok ayah. Hhh.. Saat ini, aku merasa jauh dari ayahku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak berinteraksi dengan beliau. Menangis memang tidak dapat menyelesaikan masalah sama sekali, yang bisa aku lakukan adalah berdoa agar ayahku selalu sehat walafiat untuk beramal sholeh, dan tetap semangat dalam hal apapun.

Inti dari posting ini sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku bersyukur ikut KIAS. Walaupun saat ini aku harus begadang (lagi) untuk mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok, rasanya adil jika dibandingkan dengan apa yang aku dapatkan di KIAS. Aku ingat perkataan salah seorang fasilitator saat di KIAS, yang juga Ketua BEM UI 2008.

Jika kita yakin dengan investasi waktu yang kita lakukan, insyaAllah Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Skenario Allah akan indah pada waktunya.

Hari ini amatlah penting karena hari ini adalah satu-satunya waktu yang kita punya. Oleh karena itu, ambil keputusan penting hari ini, lalu kelola tiap hari.

Keputusan yang baik+disiplin harian = mahakarya potensi



KIAS 2009... Subhanallah, Alhamdulillah, Luar Biasa, ALLAHU AKBAR!! :)